Pandemi covid-19 mendorong konsumen memilih belanja barang secara nontunai, lebih bersikap hati-hati dan juga teliti, hasil survei global dari Standard Chartered mengindikasikan.Dikutip dari Bisnis.com Rabu (16/09), hampir 75 persen responden survei di Indonesia dan dua pertiga di seluruh dunia setuju bahwa Covid-19 telah membuat mereka lebih positif tentang belanja daring, tetapi mereka juga lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka dan menginginkan cara baru untuk melacak uang mereka secara digital.Di Indonesia, preferensi konsumen untuk berbelanja daring telah meningkat 16 persen, dari 40 persen sebelum pandemi menjadi 56 persen pada saat pandemi.Hal ini juga mencerminkan tren global, yang mana sepertiga total responden lebih memilih belanja daring sebelum pandemi dan kini hampir setengah atau 48 persen lebih memilih metode tersebut untuk pembelian barang di masa mendatang.Peningkatan preferensi untuk pembayaran daring ini berlaku untuk berbagai pembelian, dari bahan makanan dan perjalanan hingga perangkat digital.Hasilnya, 80 persen orang di Indonesia dan 64 persen secara global sekarang mengharapkan negara ini menjadi sepenuhnya menjadi non-tunai, dengan sebagian besar masyarakat mengharapkan transisi ini terjadi pada tahun 2025.Penarikan tunai dari ATM sekarang setengah dari jumlah dua tahun lalu. Selain bertransaksi secara non-tunai, lebih dari setengah orang Indonesia mengatakan bahwa mereka sekarang lebih cenderung berbelanja produk yang lokal (67 persen), yang lebih berkelanjutan/sustainable (59 persen) dan yang diproduksi oleh usaha kecil/UMKM (60 persen).Selain itu menurut Republika Selasa (15/09), Bank Mandiri (JK:BMRI) terus memperkuat lini layanan dan produk perbankan digital untuk meningkatkan pemanfaatan dan membudayakan kebiasaan bertransaksi secara online di masyarakat, terutama di masa pandemi covid-19.Hasilnya, Juli 2020, Bank Mandiri mencatat adanya lebih dari 4,7 juta user dan e-channel yang telah terintegrasi dengan sistem pembayaran digital Bank Mandiri dengan jumlah transaksi sebesar 114,4 juta senilai Rp129,6 triliun.Menurut Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Aquarius Rudiyanto, inisiatif pengembangan layanan perbankan digital ini merupakan salah satu bentuk dukungan perseroan kepada agenda pemulihan ekonomi nasional, maupun lokal.Dia mengungkapkan, Inisiatif digitalisasi layanan perbankan ini juga sejalan dengan visi Bank Mandiri untuk menjadi mitra finansial pilihan utama masyarakat Indonesia dengan bertransformasi menjadi modern digital bank terbaik yang dapat menghadirkan solusi perbankan digital yang handal dan simpel untuk berbagai kebutuhan nasabah.Di samping itu RCEO Bank Mandiri Region V/Jakarta III Anton Zulkarnaen menambahkan, Bank Mandiri juga telah mengembangkan sejumlah platform perbankan digital seperti Mandiri Debit, Mandiri Kartu Kredit, Mandiri Emoney, Mandiri Online, Mandiri Internet Bisnis, Mandiri EDC dan Ecommerce, QRIS, Virtual Account, Mandiri ATM  sampai dengan   Mandiri Agen.Bahkan, tambah Anton, pihaknya juga telah mengembangkan produk DIGIRESTO dan DIGIRETAIL yang dapat digunakan oleh pelaku usaha pemilik resto dan toko retail yang tentunya sangat simple karena cukup menggunakan platform Whatsapp.