Pengeluaran rumah tangga di Jepang turun dengan laju tercepatnya pada bulan Mei karena para konsumen mengikuti seruan pihak berwenang untuk tetap tinggal di rumah guna menahan penyebaran pandemi covid-19 dan ini mendorong ekonomi terbesar ketiga di dunia itu semakin jatuh.Menurut laporan yang dilansir Reuters Selasa (07/07) pagi, penurunan belanja yang besar ini akan menambah tekanan pada pengambil kebijakan untuk meningkatkan langkah-langkah pemulihan kepercayaan di kalangan bisnis dan khususnya konsumen.Belanja rumah tangga anjlok 16,2% pada bulan Mei dari periode sama tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada hari Selasa, jatuh dengan tingkat laju tercepat sejak data dirilis tahun 2001 silam.Penurunan, yang lebih besar dari rata-rata perkiraan pasar sebesar 12,2%, melanjutkan pelemahan data pada bulan April sebesar 11,1%.Sementara itu, gaji riil yang disesuaikan dengan inflasi bulan Mei di Jepang turun pada laju tercepatnya nyaris selama lima tahun, data pemerintah menunjukkan pada Selasa (07/07) dan ini merupakan tanda tekanan terhadap pasar tenaga kerja akibat ekonomi mendapat pukulan telak dari dampak pandemi covid-19.Gaji riil, ukuran daya beli rumah tangga, jatuh 2,1% pada bulan Mei dari periode sama tahun sebelumnya, data Kementerian Tenaga Kerja Jepang menunjukkan, jatuh dengan laju tercepatnya sejak penurunan sebesar 2,8% pada Juni 2015.Pembayaran lembur, barometer kekuatan dalam aktivitas perusahaan, mencatat penurunan terbesar sejak data tersedia pada Januari 2013, anjlok 25,8% pada bulan Mei dari tahun sebelumnya, turun selama sembilan bulan berturut-turut.Data gaji bulanan menunjukkan total pendapatan tunai nominal turun 2,1% pada tahun ini hingga Mei, juga mengalami penurunan terbesar sejak Juni 2015, menyusul revisi penurunan 0,7% pada bulan April.Pembayaran reguler - atau gaji pokok, yang merupakan angka mayoritas dari total pendapatan tunai - naik, meningkat 0,2%, data menunjukkan. Pembayaran khusus satu kali turun 14,0% setelah kenaikan 6,4% direvisi turun pada bulan April.