Belanja rumah tangga Jepang kian turun selama 11 bulan berturut-turut pada Agustus dan upah riil juga mencatatkan penurunan selama enam bulan seiring kegiatan konsumen berusaha kembali ke tingkat sebelum pandemi.Dilansir dari Reuters Jumat (09/10) pagi, analis menilai ekonomi bangkit dari kemerosotan akibat dampak dari pandemi covid-19 tetapi angka belanja dan upah yang lemah menyoroti tantangan yang dihadapi Perdana Menteri baru Yoshihide Suga saat ia berusaha menghidupkan kembali perekonomian.Belanja rumah tangga turun 6,9% pada Agustus dari tahun sebelumnya, data pemerintah menunjukkan pada hari Jumat, sesuai dengan perkiraan median dalam jajak pendapat laporan.Penurunan belanja rumah tangga untuk periode sama tahun ke tahun di bulan Agustus akan menandai penurunan ke-11 berturut-turut, periode kontraksi terpanjang sejak terjadi di rentang waktu 15 bulan hingga Mei 2017.Namun, laju penurunan telah melambat setelah mencapai rekor 16,2% pada Mei, ketika orang tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran virus akibat tindakan penutupan nasional.Pemerintah mencabut tindakan darurat pada akhir Mei dan aktivitas bisnis secara bertahap dilanjutkan.Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, belanja rumah tangga naik 1,7% di bulan Agustus setelah penurunan 6,5% pada bulan Juli.Data terpisah pada hari Jumat menunjukkan upah riil yang disesuaikan dengan inflasi negara turun 1,4% pada Agustus dari tahun sebelumnya, turun selama enam bulan berturut-turut, mencerminkan penurunan besar upah lembur.Analis mengatakan perlu waktu agar tingkat aktivitas kembali ke tingkat sebelum merebaknya pandemi covid-19.