Ekonomi Jepang kuartal keempat turun jauh dari perkiraan dan mencapai tingkat penurunan terbesar sejak terjadi kenaikan pajak penjualan tahun 2014. Hal ini memperburuk kekhawatiran prospek ekonomi saat ini di kala dampak wabah virus covid-19 meningkatkan risiko resesi.Melansir dari Reuters Senin (09/03) pagi, lonjakanUSD/JPY Jepang dan jatuhnya saham-saham di Tokyo - dengan latar belakang pemotongan harga minyak yang berimbas ke pasar keuangan - menambah kesulitan bagi ekonomi negara itu yang tengah mengatasi kenaikan pajak penjualan Oktober menjadi 10% dari 8%, juga di tengah keterpurukan sektor pariwisata dan gangguan jaringan pasokan yang dipicu krisis kesehatan.Sejumlah rilis data yang buruk itu memperbaharui tekanan bagi pemerintah dan bank sentral untuk mengerahkan segala dukungan fiskal dan moneter yang lebih kuat.Negara dengan ekonomi terbesar ketiga dunia itu turun sebesar 7,1% secara tahunan selama tiga bulan hingga Desember, data yang direvisi menunjukkan pada Senin ini, melampaui pembacaan awal sebesar 6,3% dan perkiraan rata-rata pasar sebesar 6,6%.Angka tersebut merupakan penurunan terbesar sejak periode April-Juni 2014, ketika pajak penjualan naik menjadi 8% dari sebelumnya 5% pada bulan April pada tahun itu dan mendorong ekonomi ke dalam jurang resesi.Kontraksi yang lebih besar dan dampak virus telah memicu kekhawatiran akan munculnya kontraksi lagi untuk periode Januari-Maret dan ini menandai penurunan dua kuartal berturut-turut - dengan kata lain sinyal resesi.