Indonesia berpotensi mengalami deflasi apabila daya beli masyarakat tak kunjung meningkat. Deflasi ini muncul jika pertumbuhan domestik bruto (PDB) berkontraksi selama dua kuartal berturut-turut alias resesi.Mengutip Kata Data Rabu (26/08), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan berikutnya kemungkinan berada di negatif 2% setelah pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 berada di minus 5,32%.Dengan demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjan 2020 adalah minus 1,1% hingga 0,2%. Konsumsi dan investasi akan menjadi penggerak utama perekonomian agar angka pertumbuhan dapat naik.Sebagai informasi, konsumsi rumah tangga terkontraksi hingga 5,51% pada kuartal II-2020, dibandingkan pada 2019 dalam periode yang sama. Padahal kuartal I-2020 masih berada di titik 2,83%. Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor utama produk domestik bruto (PDB) Indonesia.Resesi tidak terpisahkan dari deflasi. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat inflasi Indonesia secara tahunan menunjukkan tren penurunan.Sementara secara bulanan, terjadi deflasi sebesar 0,1%. Angka ini merupakan yang terendah sejak September 2018.Deflasi punya dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasalnya, hasil produksi yang tidak diserap oleh masyarakat membuat perusahaan mau tidak mau harus mengurangi kapasitas produksinya. Imbasnya, kondisi deflasi bisa memunculkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).Sementara itu dikutip dari CNBC Indonesia Rabu (26/08), bank sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang kembali menunjukkan deflasi. IHK inti dilaporkan -0,4% year-on-year (YoY) di bulan Juli, dari bulan sebelumnya -0,2% YoY. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2020 ketika -0,5% YoY.Deflasi yang paling parah dalam 1 dekade terakhir tersebut terjadi akibat penurunan tajam biaya listrik dan gas, serta makanan yang belum dimasak.IHK secara keseluruhan juga dilaporkan -0,4% YoY, dan sudah deflasi dalam 4 bulan beruntun.IHK yang masih terus menurun memberikan gambaran roda perekonomian masih berputar dengan lambat di Negeri Merlion, sehingga pemulihan ekonomi dari resesi akibat pandemi Covid-19 kemungkinan akan berlangsung lama.