Pasar mata uang negara berkembang kemungkinan akan melepas keuntungan yang baru-baru ini diraih jika kebangkitan pandemi covid-19 terus berlanjut pada paruh kedua tahun ini dan hal ini kembali mendorong arus masuk ke dolar AS yang dianggap lebih aman, menurut jajak pendapat Reuters dirangkum dari ahli strategi pasar.Menurut laporan yang dilansir Reuters Kamis (02/07) pagi, pasangan mata uang BRL/USD, RUB/USD dan INR/USD menjadi sorotan di tengah lonjakan kasus covid-19 di Brasil, Rusia dan India. Ketiga negara ini mencatat jumlah kasus virus tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat.Prospek ekonomi negara berkembang ini terus memburuk akibat diterpa badai krisis kesehatan yang tiada henti. Ditambah pula masalah politik di Brasil, Kremlin juga kini memperketat aturan dan kota-kota India menghadapi masalah kurangnya infrastruktur yang memadai.Lebih dari 90%, 63 dari 68 responden dalam jajak pendapat laporan periode 25 Juni-1 Juli mengatakan gelombang kedua pandemi covid-19 akan mendorong kenaikan dolar AS, seperti hal pada tren di bulan Maret.Real brasil diperkirakan akan menguat hampir 8% dalam satu tahun, tapi masih merugi sekitar 21,2% sepanjang tahun 2020 ini.Mata uang Rusia, Rubel juga diperkirakan akan naik 4,7% dalam 12 bulan setelah anjlok 9,6% tahun ini.Mengutip data Investing.com pukul 11.25 WIB INR/USD naik tipis 0,07% ke 0,01324, RUB/USD stagnan di 0,01405 sampai pukul 10.21 WIB dan BRL/USD stabil di 0,1881 hingga pukul 04.18 WIB.Sementara rupiah USD/IDR kembali bergerak melemah 0,63% di 14.355,0 per dolar AS hingga pukul 10.09 WIB.