Indonesia mencatat surplus perdagangan terbesar selama sembilan tahun terakhir pada bulan Juli seiring meningkatnya ekspor namun permintaan impor domestik tetap lemah kala pandemi covid-19, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) RI menunjukkan Selasa (18/08).Indonesia melaporkan surplus senilai $3,26 miliar pada bulan Juli, kata BPS, yang merupakan tingkat tertinggi sejak Agustus 2011, menurut data Refinitiv Eikon yang dilansir Reuters Selasa (18/08) petang.Angka tersebut dengan mudah melampaui perkiraan jajak pendapat laporan untuk mencatat surplus senilai $680 juta dan juga melewati data surplus $1,27 miliar di bulan Juni.Ekspor bulan Juli tumbuh sebesar 14,33% dari bulan Juni menjadi $13,73 miliar, meskipun masih 9,90% di bawah nilai pengiriman pada periode bulan yang sama tahun lalu. Namun, laju kontraksi lebih lambat dari prediksi jajak pendapat untuk penurunan sebesar 16,65%.Berdasarkan nilai, tingkat ekspor ini merupakan yang tertinggi sejak bulan Maret. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengaitkan hal ini dengan penjualan produk pertanian seperti minyak sawit, jamu dan sarang burung, dan meskipun ekspor batu bara, karet, serta minyak dan gas melemah.Sementara Impor turun sebesar 32,55% untuk periode setahun menjadi $10,47 miliar, lebih besar dari perkiraan tingkat penurunan sebesar 22,48%.