Ekonomi Jepang kemungkinan jatuh selama dua kuartal berturut-turut dalam tiga bulan pertama tahun ini, jajak pendapat Reuters menunjukkan. Hal ini memenuhi definisi teknis resesi tatkala pandemi covid-19 menghantam sektor konsumen dan kegiatan usaha di Jepang.Data produk domestik bruto (PDB), yang rilis pada 18 Mei, kemungkinan menunjukkan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu mengalami kontraksi tahunan sebesar 4,6% untuk periode Januari-Maret, jajak pendapat dari 14 analis menunjukkan sebagaimana dilansir Reuters pada Jumat (08/05) petang.Angka tersebut akan menyusul data penurunan sebesar 7,1% pada kuartal sebelumnya, di mana sektor konsumsi terkena dampak akibat kenaikan pajak penjualan domestik pada bulan Oktober 2019. Penurunan dua kuartal berturut-turut akan menjadi resesi pertama Jepang sejak tahun 2015.Sektor konsumen, yang menyumbang setengah lebih ekonomi Jepang, kemungkinan turun 1,6% pada periode Januari-Maret dari kuartal sebelumnya, jajak pendapat menunjukkan.Belanja modal juga diperkirakan telah menurun 1,5% setelah adanya penurunan 4,6% pada Oktober-Desember, jajak pendapat mengungkapkan. Ini menjadi sebuah tanda perusahaan menunda pengeluaran akibat ketidakpastian lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi pandemi covid-19.Kontribusi permintaan eksternal terhadap pertumbuhan PDB diperkirakan tidak berpengaruh besar, jajak pendapat melanjutkan.Data PDB awal kuartal pertama akan dirilis pukul 23.50 GMT, Minggu 17 Mei 2020.