Rupiah berakhir melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu (02/09) petang. Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas pergerakan mata uang kawasan Asia dan dolar AS kian menguat pasca mulai pulihnya sektor manufaktur di Amerika Serikat.Rupiah ditutup turun 1,24% atau 180 poin ke 14.745,0 per dolar AS sampai pukul 14.58 WIB menurut data Investing.com. Dikutip dari Kontan Rabu (02/09), Rupiah memimpin pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS hingga sore ini.Selain rupiah, rupee India juga melemah 0,27%, baht Thailand melemah 0,25%, won Korea melemah 0,20%, dolar Taiwan melemah 0,11%. yen Jepang melemah 0,10%. pesso Filipina melemah 0,10%, ringgit Malaysia melemah 0,03%, dolar Singapura melemah 0,01% dan dolar Hong Kong melemah 0,003% terhadap dolar AS.Pelemahan rupiah terjadi akibat kekhawatiran investor tentang independensi bank sentral menyusul usulan untuk memberikan pemerintah lebih banyak otoritas dalam keputusan kebijakan moneter. Alhasil, Bank Indonesia melakukan intervensi untuk meredakan volatilitas rupiah.Meski begitu, Presiden Joko Widodo berjanji pada hari Selasa bahwa bank sentral akan tetap independen setelah panel ahli yang menasihati parlemen merekomendasikan para menteri diberikan hak suara pada pertemuan kebijakan dan agar mandat BI diperluas untuk mencakup pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.Dolar memperpanjang kenaikan setelah data manufaktur; Dolar Australia tertinggalSementara itu mengutip laporan Reuters, dolar AS semakin menguat pada Rabu (02/09) petang pasca rilis data positif sektor manufaktur AS dan dolar Australia terus turun setelah data PDB Rabu mengonfirmasi negara itu masuk resesi untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.Indeks dolar AS menguat 0,28% ke 92,600 menurut data Investing.com pukul 16.23 WIB dan AUD/USD semakin turun 0,36% di 0,7345.Aktivitas manufaktur di Amerika Serikat meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Agustus, dengan pesanan baru juga melonjak.Data PDB Australia mengkonfirmasi ekonomi negara itu minus 7% selama tiga bulan hingga Juni dan ini menjadi resesi pertama negeri kangguru dalam hampir tiga dekade.