Sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) baru dirancang agar dapat mengenali kode berbahaya yang membajak superkomputer penambangan mata uang kripto, menurut para peneliti. Sistem ini membandingkan program yang digunakan terkait penyalahgunaan superkomputer, berdasarkan grafik, atau seperti sidik jari di perangkat lunak.Mengutip laporan yang dilansir The Hindu Rabu (26/08) petang, para peneliti di Los Alamos National Laboratory (LANL) yang berbasis di Amerika Serikat telah mengembangkan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi penambang mata uang kripto tidak sah yang menggunakan komputer penelitian untuk melakukan penambangan.Penambangan mata uang kripto membutuhkan banyak daya komputasi karena para penambang melakukan perhitungan yang intens secara komputasi untuk menambang mata uang kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan Monero.Akibatnya, para penambang cenderung menyusun susunan komputer untuk menambang mata uang kripto. Penambang mata uang kripto mencoba menggunakan kemampuan komputasi superkomputer yang tinggi dan menyembunyikan proses pembajakan.Sama seperti penjahat yang dapat ditangkap dengan membandingkan sidik jarinya dengan pusat data sidik jari, sistem AI tersebut membandingkan grafik kontrol aliran program dengan katalog grafik untuk program yang diizinkan berjalan di komputer tertentu, jelas LANL.Para peneliti tersebut menemukan bahwa sistem itu bisa mengidentifikasi operasi penambangan tidak sah lebih cepat daripada analisis non-AI konvensional. Ini dilakukan ketika menguji sistem dengan membandingkan kode asli bersama kode penambangan lain.Pukul 14.46 WIB, bitcoin anjlok 1,94% di $11.362,8 menurut data Investing.com.