Badan Pusat Statistik (BPS) RI mengumumkan deflasi sebesar 0,05% pada September 2020. Hasil survei deflasi ini telah berlangsung selama tiga bulan beruntun dari Juli 2020.Tercatat mengutip laporan Okezone Kamis (01/10), Juli terjadi deflasi 0,10% dan Agustus terjadi deflasi 0,05%.Kepala BPS Suhariyanto merinci, inflasi kalender (Januari-September 2020) mencapai 0,89% dan adapun inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) mencapai 1,42%.Dari 90 kota IHK, deflasi tertinggi terjadi di Kupang sebesar 0,92% dan terendah terjadi Bukit Tinggi, Jember, Singkawang masing-masing sebesar 0,01%Sementara inflasi tertinggi terjadi di Gunung Sitoli sebesar 1% dan terendah terjadi di Pontianak dan Pekan Baru 0,01%.Lebih lanjut menurut Kompas (01/10), Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Indonesia sudah lama tak mengalami deflasi berturut-turut. Berdasarkan catatannya, Indonesia terakhir kali mengalami deflasi berturut-turut pada tahun 1999.Sementara menurut komponen, inflasi inti pada September sebesar 0,13 persen. Tingkat inflasi komponen inti sepanjang 2020 menjadi 1,46 persen (year ton date/ytd), dan menjadi 1,86 persen secara tahunan (year on year/yoy).Pria yang akrab disapa Kecuk ini mengatakan, inflasi inti secara tahunan yang sebesar 2,86 persen merupakan yang terendah sejak tahun 2004.Berdasarkan kelompok pengeluaran, ada 4 kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau 0,37 persen; pakaian dan alas kaki 0,01 persen; kelompok transportasi 0,33 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen.Sebaliknya, masih ada kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, yakni kelompok pendidikan sebesar 0,62 persen; perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,25 persen; serta perlengkapan perawatan rutin rumah tangga sebesar 0,15 persen.