Imbal hasil obligasi negara utama, yang telah bernilai rendah selama bertahun-tahun, diperkirakan akan mendekati level saat ini selama 12 bulan ke depan karena perekonomian global berusaha pulih dari dampak covid-19, jajak pendapat Reuters menemukan.Dengan ekspektasi akan melemahnya pertumbuhan ekonomi, bank-bank sentral utama kemungkinan akan menambah neraca keuangannya yang sudah membengkak dan meningkatkan pengaruhnya terhadap pasar obligasi seperti dilansir Reuters Selasa (30/06) pagi.Antisipasi pemulihan yang kuat dari tindakan pembatasan di seluruh dunia untuk mengendalikan penyebaran wabah covid-19 telah membantu bursa saham melonjak dari posisi terendah pada bulan Maret.Tapi nilai imbal hasil obligasi negara diharapkan tidak akan kembali ke level sebelum merebaknya pandemi di masa mendatang.Jajak pendapat 19-26 Juni dikumpulkan dari lebih 90 ahli strategi dan analis pendapatan tetap menemukan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah akan tetap berada di sekitar level saat ini hingga akhir tahun 2020, sedikit naik dari level saat ini di tahun depan.Yang lainnya juga serupa mengeluarkan pandangan hati-hati.Nilai imbal hasil obligasi acuan pemerintah AS bertenor 10 tahun saat ini ada di sekitar level 0,65% dan diperkirakan akan naik menjadi 1,10% dalam 12 bulan ke depan.Proyeksi inflasi rendah, yang berisiko menimbulkan disinflasi atau deflasi, juga menjelaskan nilai imbal hasil yang rendah.Lebih dari 70% dari 45 analis yang menjawab pertanyaan terpisah mengatakan disinflasi atau deflasi muncul karena melemahnya permintaan adalah risiko besar yang dapat timbul setelah pandemi mereda.Hampir dua pertiga - 29 dari 44 - ahli strategi yang menjawab pertanyaan tambahan mengatakan bahwa The Fed tidak akan memperkenalkan kontrol kurva imbal hasil tahun ini. 15 sisanya mengatakan akan melakukannya.